Welcome To My Paradise

Welcome To My Paradise

Kamis, 05 Februari 2009

Kiprah Lucu Para Partai dan Caleg nya.

Seperti biasa, di tengah ngurus kerjaan, saya sempatkan buka facebook.
Sempat tidak sempat, harus sempat buka facebook hehehe… Mumpung belum di fatwa haramkan sama MUI. (Emang ngaruh gitu sama fatwa MUI? Ya enggaklah. Enak aja)

Mata saya terantuk pada satu tagline kawan di Facebook. Tag itu membikin saya tersenyum. Begini tulisannya: "Permadi masuk Gerindra: "Di makam Bung Karno itu, Prabowo melamar aku. Dia itu Sukarno Kecil, lhoo!" Oyaaa???

Menurut temen saya, Permadi seriues bilang begitu. Mungkin permadi lagi mabok kemenyan. Hahhaaha… Siapa nggak kenal kiprah Permadi. Sejak dulu, anggota dewan yang satu itu emang serba klenik banget. Ada indikasi, Permadi enggak disukai sama TK lagi, trus mendekat ke Gerindra. Apapun itu, mbok ya pragmatis sedikit. Masa Permadi bilang Prabowo seperti Sukarno Kecil. Trus masa di lamar nya di kuburan sih. Umumnya orang kalo me-lobby ya di cafĂ©, atau di restoran, atau di mana kek. Ini kok di bukuran. Serem amat.

Tak berapa lama, temen saya itu, mengubah tag nya lagi menjadi " Satu iklan, dua telinga. 1) "Gerindra, Gerindaah, negriindah, negeri indaaah .. 2) "Gerindra, Gerindraah, Ngerindraah, Ngeriiii Daah, Ngeriiii!"

Kalo ini menurut dia sekadar lucu-lucuan aja. Memang banyak yang lucu lucu belakangan ini.
Contohnya gambar yang saya temukan di sini

Norak karena Keturunannya


Norak karena anaknya


Norak karena baru belajar Photoshop

Mereka ini mau maju caleg tapi kok nggak percaya diri. Suruh kakek buyutnya aja yang maju caleg. kalo dia bapaknya Chyntia Lamusu, trus kenapa? Yang terakhir masih mendingan lah, meski agak agak katrok. Berasa jadi superman malah jadi mirip Suparman. Kenapa nggak Sekalian aja foto bareng sama Tukul. Biar makin katrok dan makin tenar. Heheheh…

Masih ada yang lucu lagi nih. Berita bisa di klik di disini :
JAMBI - Seorang calon anggota DPRD Jambi dari Partai Keadilan Sejahtera Zul Hamdi Alhamidi tertangkap basah sedang menikmati pijat plus di salah satu panti pijat di Jambi, tadi malam...

Akhirnya setelah 4 tahun, PKS bisa mengakui enaknya duit dan kenikmatan duniawi.. hehehehe..
Di antara lucu lucu yang katrok itu, untungnya masih ada lucu yang kreatif. Ini blog wartawan muda yang kritis dan kreatif. Gosippemilu namanya.
Mereka bikin kaos yang mampu bikin kita tersenyum.

Kaos Tolak Fatwa Haram MUI

Kaos Ogah Ikut Parpol

Kaos Anti Caleg Artis

Saya yakin, ini belum seberapa. Ke depan, pasti masih ada kelucuan-kelucuan lainnya. Maka waspadalah waspadalah… hehehe..
~ Cheers

Selasa, 27 Januari 2009

Dari Kunstkring ke Buddha Bar


Gedung bekas kantor imigrasi di pojokan Jalan Cut Nyak Dien dan Jalan Teuku Umar, Menteng Jakarta Pusat ini akan dijadikan Buddha Bar, sebuah konsep restoran yang dibawa oleh Raymond Visan dari Perancis.


Sabtu, 22 November 2008 | 15:59 WIB

Dastin Hillery, Suci Mayang Sari, dan Agus Surja Sadana, tercatat sebagai tiga pemenang sayembara konsep penggunaan dan pengelolaan bangunan cagar budaya, dalam hal ini gedung eks Imigrasi atau gedung Kunstkring di pojokan Jalan Cut Nyak Dien dan Jalan Teuku Umar. Itu tahun 2003. Kini nama itu barangkali sudah terlupakan atau dilupakan.

Dastin, juara pertama, mengusulkan gedung digunakan sebagai perikatan seni Jakarta sesuai fungsi di masa lalu. Lantai dasar gedung berlantai dua itu diusulkan sebagai ruang pamer utama. Sedangkan lantai dua digunakan untuk kuliah umum, talkshow, diskusi, termasuk penyediaan toko buku seni dan arsitektur.

Mayang Sari, juara kedua, mengusulkan gedung digunakan komunitas seni arsitektur Jakarta. Sedangkan Agus Sadana, juara tiga, mengusulkan gedung dimanfaatkan sebagai resto bernuansa tempo dulu.

Setelah sempat terbengkalai, kini gedung rancangan PAJ Moojen itu siap berdegup kembali. Gedung itu akan menjadi Buddha Bar, sebuah konsep restoran yang dibawa oleh Raymond Visan dari Perancis. Pengelolaan dipegang PT Nireta Vista Creative (PT NVC) selama lima tahun. Ini merupakan kali pertama sebuah bangunan cagar budaya (BCB) dipugar kemudian berfungsi lagi dengan pengelolaan oleh pihak swasta.
Tentu saja, Pemprov DKI masih menjadi pemilik sah gedung itu. Menurut Setia Gunawan, Kasubdis Pelayanan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI, pengelola menyewa gedung itu selama lima tahun dengan nilai sekitar Rp 4 miliar atau Rp 800 juta/tahun.

Selain Buddha Bar, pengelola menyediakan sedikit lahan untuk pameran lukisan. Galeri itu ada di lantai bawah bagian depan. Sisanya, untuk restoran dan lounge. Gubernur DKI Fauzi Bowo berencana membuka tempat baru itu pada 28 November 2008 mendatang.

Apresiasi seni

Dalam buku Menteng, Kota Taman Pertama di Indonesia karangan Adolf Heuken, gedung dengan dua menara tersebut merupakan awal sejarah arsitektur Indonesia. Semula gedung itu milik Nederlandsch Indische Kunstkring (Lingkar Seni Hindia Belanda), perkumpulan yang membangkitkan apresiasi warga Batavia terhadap seni.

Gedung dibangun tahun 1913, setelah pada tahun 1912 NV De Bouwpleg menyumbangkan sebidang tanah. Dalam buku itu juga disebutkan, selama sepuluh tahun uang sewa restoran Stam en Weyns, yang menggunakan lantai bawah gedung, dipakai untuk melunasi pinjaman.

Di tempat ini diadakan pameran lukisan, pertunjukan musik, dan ceramah. Tak ketinggalan perpustakaan berisi buku tentang kesenian juga tersedia. Tahun 1936 dibuka museum berisi lukisan karya van Gogh dan Picasso, yang dipinjam dari museum di Eropa. Tak ketinggalan pameran lukisan tentang Oud Batavia digelar di sini.

Dari catatan Warta Kota, tahun 1993 bekas gedung Imigrasi yang saat itu dihargai Rp 9 miliar ini ditukar guling (ruilslag) dengan gedung kepunyaan PT Mandala Griya Cipta (MGC) milik Tommy Soeharto. Sebagai gantinya, Departemen Kehakiman diberi kantor baru di Kemayoran.

Namun kemudian pada sekitar tahun 1999, kondisi bangunan yang dilindungi dan berklasifikasi A ini berantakan. Kusen, daun pintu dan jendela lenyap. Pagar seng menutupi sekeliling bangunan. Tahun 2002, Pemprov DKI membeli gedung ini kembali. Setahun kemudian diadakan sayembara dan kemudian pemugaran dimulai.

Pradaningrum Mijarto

Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/22/15594176/dari.kunstkring.ke.buddha



From Kunstkring to Buddha Bar - by Pradaningrum Mijarto



This Ex-Immigration building at the corner of Cut Nyak Dien street and Teuku Umar street, Menteng, Central Jakarta, will become Buddha Bar, a concept of restaurant which is brought by Raymond Visan from France.



Dastin Hillery, Suci Mayang Sari, and Agus Surja Sadana, noted as the top three winner of the contest of the usage and management of heritage building concept, in this case the ex-immigration building or known as Kunstkring Building at the corner of Cut Nyak Dien street and Teuku Umar street. That was year 2003. Now that name maybe has forgotten.

Dastin, the first winner, suggest to use the building as a Jakarta art union, suit as its function at the past. The ground floor of this 2 floors building was suggested to use as a main showroom. While the 2nd floor was suggested to use as a public lecture room, talk show, discussion forum, including art book and architecture store.

Mayang Sari, the second winner, suggest to use the building as a Jakarta architecture art community. While Agus Sadana, the third winner, suggest to use the building as a past nuance restaurant.

After neglected for some time, now the building designed by PAJ Moojen ready to beating again. It will become
Buddha Bar, a restaurant concept which is brought by Raymond Visan from France. This bar will manage by PT Nireta Vista Creative (PT NVC) for 5 years. This is the first time for a heritage building restored and re-function under management from private party.

The owner of this building is still Jakarta Government of course. Setia Gunawan, Kasubdis (Head of sub-agency) of Official Jakarta Culture & Museum Service said the rent price is about Rp 4 billion for 5 years or Rp 800 million/year.

Besides Buddha Bar, management kept some space for picture gallery which is on the first floor in the front area. The rest is for restaurant and lounge. Governor of Jakarta, Fauzi Bowo, scheduled to officially open the new place at November 28, 2008.

Art Appreciation

In the book
Menteng, Kota Taman Pertama di Indonesia by Adolf Heuken, the 2 tower building is a form of the beginning of Indonesia architecture history. Originally the building owned by Nederlandsch Indische Kunstkring (Nederland Art Circle / Lingkar Seni Hindia Belanda), a club that rise Batavia people's appreciation to the art.

The building was built in 1913, after NV De Bouwpleg donated a piece of land in 1912. It was said in that book that for a decade rent money from
Stam en Weyns restaurant, which was using the first floor, used to paid off the debt.

This place was held to painting exhibition, music concert, and lecture. There was also a library filled with books about art. A museum containing art works from Van Gogh and Picasso, borrowed from Europe museums, was opened here in 1936. Also a picture exhibition about Oud Batavia was held here.

From Warta Kota's record, in 1993, this ex-Immigration building, that was priced Rp 9 billion at that time, was exchanged
(ruilslag) with a PT Mandala Griya Cipta (MGC) building owned by Tommy Soeharto. As a compensation, a new office at Kemayoran was given to Justice Department.

Later at about 1999, the condition of this law protected and A-classification building was very messy and poor. Windows, doors, frames were disappeared. Iron-sheeting fence covered around the building. In year 2002, Jakarta government bought back this building. A year later a contest was held and a restoration was beginning.

resource : http://jakartathecity.blogspot.com/2008/11/from-kunstkring-to-buddha-bar.html

Senin, 26 Januari 2009

Sering Terjadi "Kasus Jatuh di Tempat Biasa" di Sarinah

Pada Selasa 12 Januari 2008, saya terjatuh di dalam area gedung Sarinah. Kala itu saya ingin menuju lift yang menghubungkan lantai satu dengan lantai-lantai dibawahnya (lift yang berada dekat klinik dan dekat ATM). Lift tersebut berada di dalam selasar yang berpintu. Untuk menuju lift itu tentunya kita harus melewati pintu. Sayangnya, persis di garis batas pintu, terdapat beda tinggi lantai yang lumayan tinggi, sekitar 20 cm.

Bagi orang-orang yang baru pertama kali memasuki daerah itu, tentunya tidak akan menyadari bila persis di bawah ambang pintu, ada beda tinggi lantai. Menurut cara mendesain bangunan yang benar, bila memang ada beda tinggi lantai, seharusnya di depan pintu di beri bordes dulu. Jangan langsung turun begitu rupa.

Sambil mendorong pintu, dengan yakinnya saya melangkah tanpa menyadari adanya turunan. Walhasil kaki kanan saya terpleset dan terplintir, sementara kaki kiri saya masih melayang melangkah belum menapak lantai. Badan saya limbung dan jatuh kedepan. Saya sempat syok dan hampir pingsan. Butuh waktu agak lama bagi saya untuk menyadari apa yang terjadi. Orang-orang yang kebetulan berada di sekitar membantu saya menuju klinik yang tidak jauh dari sana. Dari orang-orang tersebut saya mendengar, kasus semacam saya sudah sering terjadi. Bahkan ketika orang-orang membawa saya ke klinik, tanpa memberi penjelasan, sang dokter langsung bisa menerka, “Jatuh di tempat biasa? di pintu dekat lift?”. Ternyata kasus ini sudah sering pula di temui oleh sang dokter.

Kedua lutut dan pergelangan kaki kanan saya cedera. Saat itu saya masih bisa berjalan. Klinik memberikan balsam pada cedera saya. Saya kembali ke kantor untuk bekerja. Namun makin lama pergelangan kaki saya makin sakit dan membengkak sebesar bola tenis. Kaki saya tidak bisa lagi untuk menapak dan menyangga tubuh. Kedua lutut dan tangan saya membiru. Akhirnya saya kembali berobat ke RSCM. Menurut hasil rontgen, pergelangan kaki saya mengalami Soft Tissue swelling di sekitar maleolus lateral. Jaringan lunaknya bergeser. Dokter meng-Gips cedera saya dan selama dua minggu saya harus mengistirahatkan kaki saya.



Atas kejadian ini saya merasa amat dirugikan. Saya tidak bisa bekerja. Saya tidak bisa beraktifitas. Kehidupan saya terganggu. Bahkan untuk ke kamar mandi pun sulit. Saya kesal dan amat dirugikan.

Menurut orang-orang dan dokter klinik di gedung Sarinah, kasus semacam saya bukan pertama kalinya terjadi. Mengapa tidak ada perhatian dari pengelola Gedung Sarinah?Bila memang ada beda tinggi lantai, seharusnya di depan pintu di beri bordes dulu. Jangan langsung turun begitu rupa.






Pihak pengelola Gedung Sarinah harus bertanggung jawab atas keselamatan para kastemernya. Semoga saya merupakan korban terakhir dari turunan tersebut.

~ Suci Mayang

Kamis, 11 Desember 2008

Barbeque

Sejak tinggal di Kramat asem, Andy seneng banget bakar-bakaran. Nggak hanya di akhir pekan, di tengah minggu kerja dia bisa tuh barbeque. Pulang kerja, ganti kostum, keluarin daging dari kulkas, siapin alat bakar, arang dan spirtus. Udah deh, dengan asiknya dia duduk nyantei bikin api di depan rumah.

Tunggu beberapa menit, Andy akan manggil-manggil "yang, ambilin, piring. Yang ambilin nasi. Yang ambilin garam. Sendok, spatula, bla bla bla, bli bli, blu blu". Kan nyebelin banget tuh. Kenapa nyuruhnya enggak sekaligus. Biar gue nggak bolak-balik. Meski nyebelin, gue tetep ngambilin dongs. Abis gue enggak tega melihat tampangnya yang bulet memerah keringetan kena panas bara itu. Tampangnya jadi mirip daging panggang. Hehe..


Andy semangat banget ngipas-ngipas..

Sampe kipas itu rusak dan menyerah.


Besoknya doski beli kipas angin.

Usai bakar-bakaran. Masih ada kerjaan menunggu. Mencuci semua perkakas perang. Ya bagi-bagi kerjaan lah. Andy beresin sampah-sampah bekas barbeque, gue yang cuci perkakasnya. Paling susah itu mencuci alat panggang. Karena besar dan gak muat di wastafel. Trus serpihan daging yang nempel mengeras di besi itu loh. Susah banget di cucinya.

Meski cape, tapi kadang seru juga. Apalagi kalo kita barbeque-an nya berdua aja. Ditengah suasana senja, dari terang ke gelap. Duduk melihat bintang. Menunggu daging dan ikan matang. Percikan api saling bersahut dengan alunan musik dari Ipod. Hehehe.. Romantis yang kapiran.. dinner nya bukan pake lilin tapi pake bara api…

Kalo hari libur, ritme bakar membakar bisa seperti minum obat. 2 kali sehari. Bangun tidur ngopi bentar. Trus "peralatan perang" di gelar di depan rumah. Gak berapa lama doski udah asik ngipas-ngipas daging atau ikan di atas bara. Sore hari nya, dia bisa tuh gelar alat perang lagi untuk bikin barbeque-an.

Tetangga sebelah rumah, Teguh dan vivi, ternyata juga setali tiga uang. Sering dan seneng banget bikin barbeque. Kita sering juga bikin barbeque bersama. Kadang cuma ber-empat aja, kadang mengundang beberapa teman dekat.

Tempatnya memang mendukung. Konsepnya kayak Town house gitu. Ada 5 unit rumah yang berjajar menghadap halaman dan dilingkari pagar bersama. Meski luasan tiap unit rumahnya kecil tapi halamannya luas bow. Sang pemilik punya hoby tanaman. Jadi di depan rumah itu tertata rapi jajaran tanaman bunga adenium berbagai warna. Lokasi rumah juga jauh dari jalan raya, jadi enak untuk bikin acara kumpul-kumpul. Nggak perlu kawatir mengganggu tetangga.

Kamis, 30 Oktober 2008

Dari Jogja "Ber-ati nyaman" menuju RI 1 untuk perubahan

Tanggal 28 Oktober 2008 kemarin, tepat peringatan 80 tahun Sumpah pemuda. Di hari yang sama, nun di alun-alun Jogjakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X menggelar Pisowanan Ageng. Dari kata 'Sowan' yang artinya ketemu, Pisowanan Ageng memiliki arti kata "Pertemuan Agung".

Pisowanan Ageng ini mengingatkan saya pada cerita masa ke emasan Majapahit di abad ke 14. Kala tampuk kerajaan di pegang oleh dua Ratu, Sri Gitarja dan Dyah Wiyat, dengan Gajah mada sebagai patih nya. Kala itu dikisahkan, setiap tahun Majapahit menggelar semacam acara pertemuan besar. Dihadiri oleh utusan dari seluruh kerajaan bawahan sebagai tanda takluk pada Majapahit. Pada pertemuan ini, semua utusan melaporkan keadaan di wilayahnya. Segala kemajuan dan kesulitannya. Berharap Sang Ratu Kembar dapat memerintahkan pengiriman bantuan. Pengiriman bahan pangan bagi wilayah yang terkena gagal panen. Pengiriman dukun kesehatan bagi wilayah yang terkena wabah penyakit. Atau setidaknya dapat diberikan kewajiban pengurangan upeti.

Ratusan abad kemudian, gelar pertemuan ini masih terjadi. Tapi konteksnya jelas sudah beda. Di abad 21 ini Pisowanan Ageng hanya menjadi ajang Pak Sultan bertemu rakyatnya.





Kala kecil dulu, meski samar-samar saya masih ingat, Yangti (nenek saya yang tinggal di Jogja) pernah bercerita. Suatu ketika, di sebuah acara -mungkin pisowanan Ageng- tetangganya pernah datang menemui Alm Sri Sultan Hamengkubuwono ke IX (ayah dari pak Sultan X). Di belakang panggung sang tetangga mencegat Rajanya dan memohon bisa menurunkan hujan, agar sawahnya tak jadi gagal panen akibat kemarau panjang. Menurut si tetangga, kala itu sang Raja hanya tersenyum dan menyuruhnya pulang. Dua hari kemudian, hujan turun deras, dan sawahnya berhasil panen. Boleh percaya boleh tidak. Tapi Nenek saya percaya betul kalau Raja nya begitu memiliki kemampuan lebih.

Pertama kali mendengar cerita itu, saya begitu takjub. Kini setelah besar, saya berpikir, kok nggak rasional sekali ya cerita itu. Ah jawa, kadang eksotik tapi juga penuh klenik. Setengah darah saya mengalir darah Jogja. Meski saya belum tercerabut dari akarnya, tapi saya Lahir dan besar di Jakarta, bersama Prambors dan majalah Hai. Di banding cerita Yangti, tentu saya lebih percaya Google dan rock and roll.

“Djawa adalah kontji” begitu kata Aidit di film G30S/PKI. Ini memang SARA, Tapi kita gak bisa menafikan fakta dan riset. Sejak ribuan tahun silam Jawa memang motor dari kebudayaan dan kemajuan nusantara. Karakter dan tipologi pulau Jawa lebih mendukung penghuninya menggapai pencapaian lebih maju dibanding manusia di pulau yang lain di Nusantara. Seperti yang termaktub dalam buku “Nusantara : A History of Indonesia” karya Bernad HM Vlekke. Namun demikian, nggak baik juga kalo ‘Jawa’ di stigma-kan sehingga menjadi alasan penghalang untuk maju.

Kalau ditarik lebih ke belakang, Keraton Jogja telah banyak mendukung perjuangan pergerakan kemerdekaan, di banding Keraton Solo yang cenderung apatis dengan perjuangan politik bangsa. Keraton Jogja berani menolak bekerja sama -atau setidaknya berseberangan jalan- dengan Belanda dan Jepang. Mungkin ini yang membuat para Sultan Jogja lebih berkarisma di mata ‘rakyat’nya. Seperti kaum Nahdliyyin terhadap Gusdur.

Tahun 1998 silam, Kala Reformasi merebak, ada 4 nama yg sibuk berembug di Ciganjur. Mereka adalah GusDur, Megawati, Amien Rais, dan Pak Sultan HB X. Selepas 1998, salah satunya sempat menjadi Ketua MPR, sementara dua lainnya sempat menjadi Presiden RI. Tapi Pak Sultan selalu setia 'duduk' di Jogja.

Saya pikir, kesultanan Jogja tidak hanya simbol Monarkhi dan sejarah. Kesultanan Jogja juga telah berkontribusi bagi terciptanya Kemerdekaan dan Reformasi Bangsa ini. Setiap Sultan Jogja menciptakan Kiprahnya masing-masing. Almarhum HB IX ikut pergerakan kemerdekaan. Pak Sultan HB X turut serta dalam reformasi.

Reformasi kini berumur 10 tahun. Telah dua kali Pemilu Pak Sultan di gadang-gadang menjadi capres. Mungkin ini saatnya Pak Sultan muncul kembali ke Jakarta. Di Pisowanan Ageng kemarin, Pak Sultan mendeklarasikan maju menjadi bakal Capres. Namun perjuangan masih panjang dan berat. Saat ini tak cukup dengan dukungan rakyat saja. Pak Sultan harus mampu menggandeng Parpol besar demi perolehan 25 % suara Legislatif.





Dilihat dari banyaknya dukungan di Pisowanan Ageng, juga pengalaman Pak Sultan memimpin Jogja, saya kira itu sudah modal awal. Selama kepemimpinan Pak Sultan betapa Jogja yang plural masyarakatnya mampu hidup harmonis dan “Ber Ati Nyaman” -seperti slogan DIY. Bila Pak Sultan berhasil di Pemilu nanti, tentunya dia dapat menularkan slogan tersebut sehingga Indonesia ber-ati Nyaman.

Tidak ada yg hitam putih di dunia ini. Di banding Bakal Capres yang lain, track record Pak Sultan termasuk cukup baik. Anti poligami, open mind, dan berbhineka tunggal ika. Saya percaya setiap warga negara berhak mencalonkan diri-sesuai UU yang berlaku. Makin banyak pilihan capres makin bagus buat kita memilih.
Ah .. sok tau sekali ya saya ini hehehe...

~Mayang

Jumat, 12 September 2008

HUT AJI Indonesia ke 14

Awal september '08 kalo nggak salah, AJI Indonesia membikin perhelatan ulang tahunnya yang ke 14 di Ballrom Hotel Intercontinental Midplaza. Saya bukan anggota AJI. Tapi saya merasa penting untuk menyambangi acara itu. Yah sekadar sosialisasi lah, dan berharap bisa mendapatkan manfaat di kemudian hari dari sosialisasi semacam ini (hehehe pamrih ya.. :) )




Disana saya ketemu beberapa teman yang mungkin sudah berbulan (bahkan bertahun) gak ketemu. Seperti kury suditomo, Teman saya liputan dulu. Saya sampe lupa, kapan terakhir ketemu dia. Mungkin kala dia baru punya anak satu. Kini doski udah beranak dua bow. Tapi tetep itu badan langsing. Bikin ngiri deh hehe… saya yang belum punya anak, badan udah melar nggak karuan begini.

Ulang tahun AJI ini terbilang mewah dan meriah. Logo Sponsor bertebaran di backdrop nya. Dari LSM, NGO , perusahaan media hingga perusahaan minyak Internasional. Saya Mahfum, kalo AJI bikin acara, banyak sponsor antri untuk kasih dana. Saya sempat dengar ada penilaian miring soal perhelatan ini. AJI kan terkenal independen, kok mau terima dana dari para kapitalis?

Kalo menurut saya sih, gak papa terima dana dari perusahaan-perusahan itu. Kan mereka memberikan dana lepas. Mereka tidak turut campur dalam kontain acara. Jadi AJI masih tetap independent untuk menyuarakan misi visinya.




Lagi pula hari gini, kita mesti realistis lah. Mungkin dalam 2-3 tahun ke depan, organisasi semacam AJI gak bisa lagi bergantung pada dana luar negeri. Jadi mulai saat ini harus berani mempertimbangkan para penyandang dana lokal. Juga termasuk perusahaan media yang katanya kapitalis itu. Selama tidak berkongsi dengan penyandang dana mafia rasanya masih boleh lah.




Perhelatan AJI juga menghadirkan Wapres Jusuf Kala. Hal ini juga memunculkan kritik dan komplennya tersendiri. Ada yang mengeluh, kehadiran JK yang penuh birokrasi protokoler membuat kenyamanan terganggu. Yah namanya juga wakil presiden, tentunya ada aturan-aturan protokoler yang mesti di jalankan. Seperti pemeriksaan intensif sejak pintu masuk hingga ke ballroom. Tapi menurut saya, dibanding SBY , kehadiran JK ini lebih menyenangkan. Kalau SBY, kita sudah terganggu dengan segala macam protokolernya, kita masih disuruh mendengarkan pidato SBY yang sering mengantukan itu, selesai pidato dia segera pergi. Jadi kita cuma di suruh jadi pendengar aja.

Beda dengan JK. Seusai JK berpidato, atas permintaan protokoler wapres, sang MC meminta hadirin berdiri karena JK mau meninggalkan ruangan. Tapi hal ini di tolak oleh JK, karena dia masih mau tinggal utk mengikuti acara selanjutnya. Beberapa saat kemudiann, MC kembali meminta hadirin berdiri, tapi JK menolaknya lagi, karena dia masih ingin tetap tinggal. Hebat euih…

Selain itu, Pidato JK juga menarik, seru, dan cespleng.
Jadi saat itu, baik JK dan ketua AJI, saling pidato dan tak sungkan untuk saling kritik seputar kebebasan Pers. Tema yang diusung AJI dalam perhelatannya kali ini.
Nah , dari situ kan terlihat kalo masing-masing bisa tetap independent menyuarakan misinya. Untuk memperjuangkan misi apapun, komunikasi dan interaksi adalah suatu hal yang patut untuk di lakukan. Untuk bisa makin mendengungkan misi, tentunya perlu event yang besar dan dihadiri oleh banyak pengambil keputusan.
Kalo misalnya acara AJI itu di gelar di kantor AJI dengan tumpengan saja, hanya mengundang para anggota dan simpatisannya saja. Bagaimana dengung misi nya bisa menyebar ke se antero negeri ? iya toh?
Tapi lepas dari semuanya, ini cuma pendapat pribadi saya aja.


Seusai menghadiri HUT AJI, saya bersama Andy langsung lanjut ke lantai bawah, di Bacchus, menyambangi undangan seorang kawan baik untuk sekadar ngobrol dan nge-wine. Setelah malam sudah sepenuhnya matang, bahkan mungkin ayam jantan siap beranjak berkokok, rendezvous Bacchus pun berakhir. Saya dan andy meluncur pulang.

Cheers
~ mayang

Jumat, 05 September 2008

Kejadian-kejadian kecil saat lari di Boston

Dibawah ini Tulisannya Mas ulil.
Membacanya membuat saya membayangkan mas ulil dengan celana training dan handuk melingkari leher, berlari nyusuri pedestrian di samping danau yang ada bebek dan angsanya hehe.. Trus juga terbayang keramahan orang2 Boston nya.. lalu sekelebat muncul ingatan saya saat uluran jabatan tangan saya di tolak oleh beberapa narsum yg kawatir berdosa bila menyentuh tangan saya.. agh sebel.. Jadi ingat perkataan Gusdur, "kalo perempuan satu bus saya ajak salaman, apa itu berarti semua perempuan itu mau saya kawinin semua ? "
~ mayang


Kejadian-kejadian kecil saat lari di Boston
KEGIATAN yang selalu saya usahakan untuk saya lakukan secara rutinselama sekolah di Boston ini adalah lari. Ini adalah olah raga murahyang tak membutuhkan modal apapun kecuali kemauan saja, selain, tentu,beberapa dolar untuk membeli sepatu olah raga.

Hari Sabtu kemaren (30/8), saya lari dan mencetak rekor baru yangsungguh menyenangkan buat saya. Biasanya, saya hanya lari selama 30menit. Setiap lari, saya berusaha memperbaiki rekor saya sendiri. Sejaklama, saya ingin bisa lari secara konstan selama satu jam. Rekor itu,akhirnya, saya capai kemaren.

Saya juga menempuh rute baru yang tak pernah saya telusuri selama ini.Saya mulai dari jalan yang dekat dengan rumah saya di kawasan NewtonCentre, yaitu Beacon St, lalu belok ke Washington St, untuk kemudianmasuk ke jalan utama Commonwealth St, jalan panjang yang tembus keUniversitas Boston. Total jarak yang saya tempuh kira-kira 6,5 mil,sekitar 10 km.

Ini jelas bukan jarak yang panjang, apalagi untuk pelari yangprofesional. Tetapi, ini jarak yang sudah sangat jauh untuk ukuransaya. Saya juga menempuhnya dengan lari yang tak terlalu kencang. Sayamemang tak "ngoyo" untuk lari cepat. Buat saya, yang penting adalahlari konstan untuk menguji ketahanan.

Saat di Jakarta dulu, saya jarang lari di tempat terbuka, karena susahmencari tempat di dekat perumahan saya yang nyaman untuk lari dan bebasdari polusi udara karena asap kendaraan bermotor. Kalau hendak lari,biasanya saya pergi ke fitness centre yang berjarak kira-kira 3 km dari perumahan saya; di sana saya lari secara "artifisial" dengan sebuah alat yang disebut thread milll.

Lari di medan terbuka tentu beda sekali dengan lari secara artifisialdengan sebuah alat. Selain gratis, lari di tempat terbuka membuat kitamerasa "bersatu" dengan alam sekitar; membuat kita merasa sebagaimanusia.

Kota Boston, terutama di daerah Newton Centre di mana saya tinggal,adalah surga untuk mereka yang senang "jogging", lari, jalan kaki ataubersepeda. Trotoarnya lumayan lebar sehingga nyaman untuk lari. Secaraumum bahkan bisa dikatakan, Boston adalah sorga untuk siapa saja yangingin melakukan kegiatan olah-raga dengan gratis.

Fasilitas oleh raga disediakan secara gratis oleh pemerintah kotadengan melimpah ruah. Di mana-mana saya lihat hamparan rumput danlapangan terbuka untuk berbagai jenis olah-raga: base-ball, soft-ball(dua jenis olah raga paling populer untuk masyarakat Amerika), basketball, tenis, dan sepak bola. Biasanya di sekitar lapangan itu dibangun "playground", lapangan tempat bermain untuk anak-anak.

Ini kontras dengan kota-kota di Indonesia yang secara umum nyarismengabaikan sama sekali fasilitas umum yang bisa digunakan olehmasyarakat untuk melaksanakan kegiatan olah-raga secara gratis.

Di kawasan tempat saya tinggal, ada beberapa danau kecil atau "dam" (reservoir).Salah satunya adalah tempat yang dikenal dengan Reservoir di kawasanBrookline, persis di samping universitas Katolik terkenal di kotaBoston, yaitu Boston College.

Di sekeliling dam itu, dibangun "track" yang nyaman untuklari. Jika kita mengelilingi dam itu, kita sama saja dengan menempuhjarak kira-kira 2,5 mil. Ini adalah kawasan yang sangat enak untukjogging, lari, atau sekedar jalan kaki atau bersepeda. Daerahnya sangatindah; di beberapa bagian, dikelilingi oleh hutan kecil. Setiap hari,mulai pagi hingga malam, selalu saja ada orang yang lari atau jalankaki di sana. Tetapi karena jaraknya agak jauh dari rumah, saya jaranglari di sana.

SAAT lari, kadang-kadang saya menjumpai sejumlah kejadian yang menarikperhatian saya. Sabtu kemaren itu, ada beberapa kajadian yang menariksaat saya lari; tentu saja menarik dalam pandangan saya, dan belumtentu kejadian yang sama menarik bagi orang-orang lain.

Saat menyusuri Jalan Beacon, beberapa meter setelah melewati kota kecilWaban, saya bertemu dengan seorang lelaki setengah baya yang sedangmenyiangi taman di depan rumah. Saat saya lewat, dia teriak, "How are you there!"Tentu saya tak kenal dia, dan dia juga tak kenal saya. Tetapi sapaanbersahabat itu mengagetkan saya yang saat itu sedang konsentrasi untuklari. Dengan sedikit agak gugup dan tentu ngos-ngosan, saya teriakbalik, "Good. How are you sir!"

Kehangatan seperti ini beberapa kali saya alami waktu berpasan denganiorang-orang yang entah berangkat kerja atau pulang kerja di kotaNewton. Saat menuju ke stasiun kereta di dekat rumah dan berangkat kekampus, misalnya, saya kerap menerima sapaan dari orang-orang yang taksaya kenal, "Hi, how are you", atau "Good morning".

Saya tahu, kehangatan semacam ini mungkin sudah tak ada ditengah-tengah kota besar seperti New York, Chicago, Los Angeles, atauBoston sendiri. Saya beruntung tinggal di kota kecil di luar kotaBoston di mana kehangatan ala kampung Jawa ini masih bertahan hinggasekarang. Setiap menerima kehangatan seperti itu, saya selalu ingatorang-orang di kampung saya di daerah Pati. Setiap berpapasan denganorang, saya selalu disapa atau menyapa, "Bade tindak pundi, Mas, Bu" (Mau kemana, Mas, Bu?).

Saat belok ke Jalan Commonwealth, saya sudah mulai agak kecapekan. Sayaberhenti lari, dan hanya jalan kaki biasa. Nafas saya masihngos-ngosan, badan saya basah kuyup oleh keringat. Seorang perempuanlari menyalip saya, dan sekonyong-konyong menoleh lalu menyapa, "Hi, are you ok? Wanna run with me?" Tentu saja ajakan untuk lari itu saya tolak, sebab saya baru saja menyelesaikan lari panjang. "No, thank you. I just finished running," jawab saya.

Jalan Commonwealth adalah salah satu kawasan yang juga sangat nyamanuntuk lari, terutama pada bagian yang berada di sepanjang kota Newton.Sejajar dengan jalan ini, ada taman rumput dengan pohon-pohon yangrindang. Di rumput inilah biasanya orang-orang lari. Karena hari ituadalah hari Sabtu, banyak orang yang lari di sepanjang JalanCommonwealth itu.

WAKTU menerima sapaan perempuan itu, saya tak memikirkan apapun. Sayamasih sibuk mengatur nafas saya yang masih sedikit ngos-ngosan. Setelahnafas mulai agak reda, sambil terus berjalan, saya mulai melakukanrefleksi kecil.

Selama ini, kaum Islamis di mana-mana memiliki agenda yang hampirseragam, terutama yang berkaitan dengan tubuh perempuan. Mereka hendakmenegakkan peraturan Islam yang berkenaan dengan pakaian perempuan.Mereka menganjurkan agar perempuan memakai jilbab, kalau bisa malahmenutup seluruh tubuh, termasuk wajah mereka. Saat di Jakarta dulu,saya bahkan kerap menjumpai sejumlah perempuan yang memakai cadar.

Di mata kaum Islamis, tubuh perempuan dipandang sebagai sumberrangsangan bagi syahwat laki-laki. Karena itu, tubuh perempuan harusditutup rapat-rapat agar syhawat laki-laki itu tidak meledak takterkendali. Seorang imam dari Australia membuat heboh April 2007 lalu.Sebagaimana diberitakan oleh koran The Sidney Morning Herald,Sheik Taj el-Din al-Hilaly, nama imam yang berasal dari Mesir itu,mengatakan bahwa seorang perempuan yang memakai pakaian minim sama saja dengan daging yang tak tertutup.

Sindiran imam itu tentu jelas maksudnya: daging yang tak ditutup sudahtentu akan mengundang lalat. Siapa yang dimaksud dengan lalat di sini,tentu anda sudah tahu sendiri. Akibat pernyataan yang kontroversialitu, sang imam dipecat dari jabatannya sebagai mufti oleh AFIC (The Australian Federation of Islamic Councils).

Pandangan imam tersebut sebetulnya sangat khas pada semua kelompokIslam konservatif, dan tidak terbatas pada kelompok Islamis. Dalampandangan ini, tubuh perempuan dianggap sebagai sumber "ketidakstabilansosial", karena dapat merangsang libido laki-laki. Jalan terbaik untukmembendung ancaman ini adalah dengan cara menyungkup tubuh perempuanserapat mungkin.

Oleh karena itu, di mana-mana, saat kaum Islam memenangkan kekuasaanpolitik, langkah pertama yang selalu mereka lakukan adalah memaksaperempuan memakai jilbab, membatasi gerak perempuan di ruang publik,menerapkan segregasi antara perempuan dan laki-laki, dsb. Semua ituberawal dari alasan yang sederhana: tubuh perempuan yang dipandangsebagai --meminjam istilah yang dikenal dalam literatur fikih Islamklasik-- "matsar al-fitnah, sumber munculnya fitnah. Yang dimaksud dengan "fitnah" di sini adalah kekacauan sosial karena syahwat laki-laki yang tak terkontrol.

Dalam "note" yang lalu, saya menganjurkan agar kita, sebagai umatIslam, memakai pendekatan kritis dalam memahami perintah agama.Menggunakan akal sehat adalah bagian dari perintah Islam itu sendirisebagaimana ditunjukkan dalam banyak ayat Quran. Islam menghendaki agarkita menjalankan perintah agama bukan dengan cara "taklid buta",kebiasaan yang menjadi ciri masyarakat jahilyyah pra-Islam yangdikritik oleh Quran. Umat Islam sudah seharusnya menjalankan ajaranagama secara kritis. (Silahkan membaca kembali "note" saya yangberjudul "Menjadi Muslim dengan perspektif liberal" )

Pertanyaan kritis yang bisa diajukan di sini adalah: benarkah tubuh perempuan adalah sumber fitnah dan kekacauan sosial?

Di sini saya ingin kembali kepada "insiden" kecil yang saya alami saatlari di Jalan Commonwealth itu. Di sana, saya melihat banyak perempuanyang lari dengan memakai baju olah raga sebagaimana layaknya dipakaioleh semua orang yang lari: kaos tipis dan celana pendek. Sudah tentutanpa penutup kepala yang sangat tak praktis untuk dipakai saat lari.

Saat orang-orang, terutama kaum laki-laki, melihat perempuan laridengan baju "minim" itu, apakah mereka lalu melakukan tindakan yang taksopan, misalnya melakukan pelecehan seksual atas perempuan itu?Sepanjang pengalaman saya lari selama ini di kota Boston, saya takpernah menjumpai seorang perempuan yang diganggu karena lari denganbaju minim. Tak pernah sekalipun saya melihat seorang laki-lakimengganggu mereka, entah dengan suitan yang menggoda, kata-kata kotor,apalagi pelecehan seksual secara langsung. Semua orang bertindak dengansopan, menghormati hak lain untuk berolah-raga secara wajar.

Dengan kata lain, tak ada kekacauan sosial apapun di sana karena tubuh perempuan yang tak tertutup dengan rapat.

Saya tentu tak melarang seorang perempuan untuk memakai jilbab. Isterisaya memakai jilbab hingga sekarang. Saya menghormati pilihanmasing-masing orang, entah untuk memakai atau tak memakai jilbab. Sayamenentang kebijakan pemerintah Perancis yang melarang murid-muridsekolah negeri untuk memakai jilbab. Di mata saya, kebijakan semacamitu sangat tak masuk akal. Tetapi saya juga menentang kebijakansejumlah peraturan daerah di Indonesia yang memaksa murid-murid sekolahnegeri untuk memakai jilbab, termasuk murid-murid non-Muslimsebagainana berlaku di beberapa daerah di Sumatera Barat.

Yang saya kritik adalah asumsi kalangan Islam fundamentalis yangmenganggap bahwa tubuh perempuan menjadi sumber kekacauan sosialsehingga harus ditutup dengan rapat. Pandangan kaum fundamentalis inimelecehkan kaum laki-laki dan perempuan sekaligus. Mereka beranggapan,seolah-olah laki-laki adalah binatang buas yang begitu melihatperempuan tak menutup seluruh tubuhnya dengan rapat akan menerkam danhendak bercinta dengannya, persis seperti perangai ayam jago yangbegitu melihat ayam betina langsung mengejar dan bersetubuh dengannya "on the spot".

Pandangan ini mengandaikan bahwa laki-laki adalah binatang seks yangseluruh hidupnya dikuasai oleh nafsu birahi. Tanpa disadari oleh kaumfundamentalis sendiri, pandangan mereka ini persis dengan teori SigmundFreud yang selalu menjadi sasaran kritik kaum Islamis selama ini.

Pandangan ini juga sekaligus melecehkan permempuan sebab menempatkanmereka semata-mata ssebagai "tubuh molek" yang selalu menebarkan gairahseksual. Perempuan sama sekali tak dipandang sebagai manusia, sebagaisubyek yang mempunyai martabat.

Yang menarik adalah justifikasi yang dikemuakakn oleh kaumfundamentalis ini: dengan memaksa perempuan memakai jilbab dan menutupseluruh tubuhnya, mereka meng-kleim ingin mengangkat martabatperempuan. Pandangan semacam ini jelas merendahkan kaum perempuan,sebab mengandaikan bahwa seorang perempuan yang tak menutup tubuhnyadengan jilbab bukan perempuan yang terhormat.

Perempuan yang terhormat dan bermartabat, dalam pandangan kaumfundamentalis, hanyalah perempuan yang memakai jilbab. Seorangperempuan yang memiliki pendidikan yang baik serta kemampun yang tinggidalam berbagai bidang pekerjaan, tetap saja dianggap tak terhormat olehkalangan fundamentalis jika tak menutup tubuh mereka dengan jilbab.

Saya ingin mengatakan kepada kaum fundamentalis itu: martabat perempuanditegakkan bukan semata-mata dengan secarik kain yang menutup kepaladan tubuh mereka. Martabat perempuan ditegakkan karena mereka bisamenikmati hak-hak mereka yang wajar sebagai manusia dan warga negara;bisa menikmati kesempatan yang luas untuk aktualisasi diri; mendapatkanpendidikan yang cukup; mendapatkan perlindungan hukum yang memadaisehingga tak rentan terhadap kekerasan dari pihak laki-laki, dsb.

Apa gunanya perempuan dipaksa menutup seluruh tubuhnya, sementarahak-hak mereka sebagai manusia dan warga negara dipreteli satu per satusebagaimana praktek luas yang kita lihat di dunia Islam saat ini?Memaksa perempuan untuk menutup seluruh tubuh seraya membatasi hak-hakmereka sebagai manusia, bukanlah cara yang tepat untuk mengangkatmartabat perempuan. Alih-alih mengangkat martabat mereka, cara sepertiitu justru merendahkan kehormatan mereka sebagai manusia.

Kecurigaan kaum Islam fundamentalis terhadap tubuh perempuan ini kadangbergerak terlalu jauh sehingga mengesankan sebuah "paranoia". Karenamaraknya Islam konservatif di kota-kota besar Indonesia saat ini, sayamulai melihat praktek yang agak janggal, yaitu laki-laki menolakberjabat tangan dengan perempuan yang bukan muhrim(kerabat dekat), seolah-olah perempuan adalah makhluk "najis" yangmenjadi ancaman atas laki-laki sehingga tak boleh dijabat tangannya.

Memang benar, ada sebuah hadis yang menjadi landasan kaum konservatifuntuk melarang laki-laki untuk berjabat tangan dengan perempuan. Sekalilagi, kita sudah seharusnya menjalankan ajaran agama dengan akal sehatyang kritis, bukan "menurut" saja tanpa sebuah alasan yang masuk akal.Taruhlah bahwa Nabi memang benar-benar melarang praktek jabat tangansemacam itu, kita pantas bertanya: Apa sebab-sebab larangan itu, dalamkonteks sosial seperti apa larangan itu muncul, apakah larangan ituberlaku secara universal sepanjang zaman, dsb.?

Kaum Islam fundamentalis biasanya ketakutan atas pertanyaan-pertanyaansemacam ini, sebab mereka khawatir Islam akan hancur jika umat Islammemakai pendekatan kritis dalam memahami agama merekai. Mereka selalumengatakan: jika ajaran agama dipersoalkan dasar-dasar rasionalnya,lalu apa yang tersisa dari agama? Ketakutan semacam ini sekali lagimembenarkan fakta selama ini bahwa kaum fundamentalis memangmenghendaki agar kita menjalankan ajaran agama secara taklid buta saja.

Agama, di mata mereka, harus dilindungi dari bahaya rasio. Menurutmereka, rasio manusia hanya boleh digunakan sebatas membenarkan ajaranyang sudah ada, tetapi tak boleh dipakai untuk menafsirkan ulang ajaranitu. Dengan kata lain, rasio hanya dipakai sebatas untuk menjustifikasi"status quo", bukan mengubahnya.

Islam sebagaimana saya pahami bukanlah agama yang dirundung rasa takutdan was-was terhadap rasio manusia semacam itu. Konon, Nabi sendiripernah membuat sebuah statemen yang menarik, "al-din huwa al-'aql, la dina li man la 'aqla lahu,agama adalah akal; tak ada agama bagi orang yang tak memiliki akal.Seorang Muslim, dalam pandangan fikih klasik, dianggap sebagai subyekmoral yang layak menerima perintah dan larangan agama setelah iamencapai usia akil balig.

Dengan kata lain, seseorang layak menjalankan ajaran agama setelah iamemiliki kemampun intelektual untuk berpikir dengan akal sehat,sehingga keputusannya untuk menjalankan perintah agama bukan karenameniru-niru tradisi yang sudah ada, tetapi karena kesadaran dankeinsafan yang mendalam. Inilah agama Islam yang saya pahami: agamayang tak melawan rasio, tetapi justru menjadikannya sebagai landasanpaling penting dalam menjalankan perintah agama.

TANPA saya sadari, sapaan perempuan yang lari di Jalan Commonwealth itu"merangsang" saya untuk berpikir keras tentang banyak hal yangberkaitan dengan Islam. Pertanyaan-pertanyaan di atas itu terusberkecamuk dalam benak saya, sementara saya terus jalan kaki menyusurijalan pulang ke rumah.

Lari, ternyata, bukan saja menyehatkan saya secara jasmaniah, tetapi juga merangsang rohani saya untuk berpikir.

Ulil Abshar Abdalla