Welcome To My Paradise

Welcome To My Paradise

Kamis, 19 Juni 2008

Indonesia

Indonesia

Di luar sel kantor Kepolisian Daerah Jakarta Raya itu sebuah statemen dimaklumkan pada pertengahan Juni yang panas: “SBY Pengecut!”

Yang membacakannya Abu Bakar Ba’asyir, disebut sebagai “Amir” Majelis Mujahidin Indonesia,
yang pernah dihukum karena terlibat aksi terorisme. Yang bikin statemen Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam, yang sedang dalam tahanan polisi dan hari itu dikunjungi sang Amir.
Dari kejadian itu jelas: mencerca Presiden dapat dilakukan dengan gampang. Suara itu tak membuat kedua orang itu ditangkap, dijebloskan ke dalam sel pengap, atau dipancung.

Sebab ini bukan Arab Saudi, wahai Saudara Shihab dan Ba’asyir! Ini bukan Turki abad ke-17, bukan pula Jawa zaman Amangkurat! Ini Indonesia tahun 2007.
Di tanah air ini, seperti Saudara alami sendiri, seorang tahanan boleh dikunjungi ramai-ramai, dipotret, didampingi pembela, tak dianggap bersalah sebelum hakim tertinggi memutuskan, dapat kesempatan membuat maklumat, bahkan mengecam Kepala Negara.
Di negeri ini proses keadilan secara formal dilakukan dengan hati-hati--karena para polisi, jaksa, dan hakim diharuskan berendah hati dan beradab. Berendah hati: mereka secara bersama atau masing-masing tak boleh meletakkan diri sebagai yang mahatahu dan mahaadil. Beradab: karena dengan kerendahan hati itu, orang yang tertuduh tetap diakui haknya untuk membela diri; ia bukan hewan untuk korban.

Keadilan adalah hal yang mulia, Saudara Shihab dan Ba’asyir, sebab itu pelik. Ia tak bisa digampangkan. Ia tak bisa diserahkan mutlak kepada hakim, jaksa, polisi--juga tak bisa digantungkan kepada kadi, majelis ulama, Ketua FPI, atau amir yang mana pun. Keadilan yang sebenarnya tak di tangan manusia.

Itulah yang tersirat dalam iman. Kita percaya kepada Tuhan: kita percaya kepada yang tak alang kepalang jauhnya di atas kita. Ia Yang Maha Sempurna yang kita ingin dekati tapi tak dapat kita capai dan samai. Dengan kata lain, iman adalah kerinduan yang mengakui keterbatasan diri. Iman membentuk, dan dibentuk, sebuah etika kedaifan.
Di negeri dengan 220 juta orang ini, dengan perbedaan yang tak tepermanai di 17 ribu pulau ini, tak ada sikap yang lebih tepat ketimbang bertolak dari kesadaran bahwa kita daif. Kemampuan kita untuk membuat 220 juta orang tanpa konflik sangat terbatas. Maka amat penting untuk punya cara terbaik mengelola sengketa.

Harus diakui (dan pengakuan ini penting), tak jarang kita gagal. Saya baca sebuah siaran pers yang beredar pada Jumat kemarin, yang disusun oleh orang-orang Indonesia yang prihatin: ”… ternyata, sejarah Indonesia tidak bebas dari konflik dengan kekerasan. Sejarah kita menyaksikan pemberontakan Darul Islam sejak Indonesia berdiri sampai dengan pertengahan 1960-an. Sejarah kita menanggungkan pembantaian 1965, kekerasan Mei 1998, konflik antargolongan di Poso dan Maluku, tindakan bersenjata di Aceh dan Papua, sampai dengan pembunuhan atas pejuang hak asasi manusia, Munir.”

Ingatkah, Saudara Ba’asyir dan Saudara Shihab, semua itu? Ingatkah Saudara berapa besar korban yang jatuh dan kerusakan yang berlanjut karena kita menyelesaikan sengketa dengan benci, kekerasan, dan sikap memandang diri paling benar? Saudara berdua orang Indonesia, seperti saya. Saya mengimbau agar Saudara juga memahami Indonesia kita: sebuah rahmat yang disebut “bhineka-tunggal- ika”. Saya mengimbau agar Saudara juga merawat rahmat itu.Merawat sebuah keanekaragaman yang tak tepermanai sama halnya dengan meniscayakan sebuah sistem yang selalu terbuka bagi tiap usaha yang berbeda untuk memperbaiki keadaan. Indonesia yang rumit ini tak mungkin berilusi ada sebuah sistem yang sempurna. Sistem yang merasa diri sempurna--dengan mengklaim diri sebagai buatan Tuhan--akan tertutup bagi koreksi, sementara kita tahu, di Indonesia kita tak hidup di surga yang tak perlu dikoreksi.
Itulah yang menyebabkan demokrasi penting dan Pancasila dirumuskan.
Demokrasi mengakui kedaifan manusia tapi juga hak-hak asasinya--dan itulah yang membuat Saudara tak dipancung karena mengecam Kepala Negara.
Dan Pancasila, Saudara, yang bukan wahyu dari langit, adalah buah sejarah dan geografi tanah air ini--di mana perbedaan diakui, karena kebhinekaan itu takdir kita, tapi di mana kerja bersama diperlukan.

Pada 1 Juni 1945, Bung Karno memakai istilah yang dipetik dari tradisi lokal, “gotong-royong”.

Kata itu kini telah terlalu sering dipakai dan disalahgunakan, tapi sebenarnya ada yang menarik yang dikatakan Bung Karno: “gotong-royong” itu “paham yang dinamis,” lebih dinamis ketimbang “kekeluargaan” .

Artinya, “gotong-royong” mengandung kemungkinan berubah-ubah cara dan prosesnya, dan pesertanya tak harus tetap dari mereka yang satu ikatan primordial, ikatan “kekeluargaan” . Sebab, ada tujuan yang universal, yang bisa mengimbau hati dan pikiran siapa saja--“yang kaya dan yang tidak kaya,” kata Bung Karno, “yang Islam dan yang Kristen”, “yang bukan Indonesia tulen dengan yang peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.”
“Gotong-royong” itu juga berangkat dari kerendahan hati dan sikap beradab, sebagaimana halnya demokrasi. Itu sebabnya, bahkan dengan membawa nama Tuhan--atau justru karena membawa nama Tuhan--siapa pun, juga Saudara Ba’asyir dan Saudara Shihab, tak boleh mengutamakan yang disebut Bung Karno sebagai “egoisme-agama.”

Bung Karno tak selamanya benar. Tapi tanpa Bung Karno pun kita tahu, tanah air ini akan jadi tempat yang mengerikan jika “egoisme” itu dikobarkan. Pesan 1 Juni 1945 itu patut didengarkan kembali: “Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara leluasa.”

Dengan begitulah Indonesia punya arti bagi sesama, Saudara Shihab dan Ba’asyir. Ataukah bagi Saudara ia tak punya arti apa-apa?


Goenawan Mohamad

Rabu, 11 Juni 2008

Atas Nama Agama

Belakangan ini banyak kejadian menyedihkan yang dialami bangsa ini. Sebenarnya ancaman terhadap kebebasan berpikir dan berexpresi di negeri ini sudah lama terjadi. Kian hari kian mengerikan dan sangat tak masuk akal sehat. Saat ini mungkin merupakan titik kulminasi dari semua ancaman tersebut. Mereka, sekelompok orang yang mengatas namakan agama, merasa diri paling benar dan merasa berhak untuk menghakimi orang lain. Saya bicara soal FPI, MUI, FUI. Saya tak habis pikir, Apa yang ada di otak mereka ketika mereka merasa berhak menghakimi, mengadili, menzalimi dan menyakiti orang yang berbeda dengan mereka? Cuma Tuhan yang memiliki hak prerogative untuk melakukan itu. Berarti mereka telah mengambil hak prerogative itu dari Tuhan. Berarti mereka berlaku bagaikan Tuhan.

Ketika pandangan sempit sekelompok orang yang mengatakan dirinya lah yang benar, lalu seseorang dilukai, dibakar rumahnya, di cerabut dari lingkungannya, kehilangan pekerjaan, tidak bisa sekolah lagi, dan trauma berkepanjangan, Agama mana yang bisa membenarkan ini ? Tidak ada satu alasan pun –alasan menurut agama apapun- yang bisa membenarkan perlakuan keji tersebut. Bukankah Tuhan itu maha kasih?

Jikalau Ahmadiyah itu beda, selama tidak merugikan orang lain ya biarkan saja. Biarkan masing-masing orang berbeda asal tidak mencuri hak orang lain. Toh kalo mereka berdosa dan masuk neraka, mereka sendiri yang masuk neraka. Biarkan Tuhan yang menghakimi di hari terakhir nanti. Lagipula siapa yang tau nantinya ada neraka atau surga? Cuma orang yang sudah mati yang tau keberadaan itu, yang tau mana kebenaran itu. Selama manusia masih hidup, semua masih dalam pencarian.

Bukankah ini Negara Demokrasi? Sejatinya, Demokrasi itu bukanlah suara terbanyak. Tapi Demokrasi adalah bagaimana kaum minoritas bisa tetap eksis. Bila demokrasi di artikan dengan voting terbanyak, dominasi kaum mayoritas, itu bukanlah Demokrasi, tapi Diktator, Tirani, Penjajahan.

Senin 4 Juni 2008 yang lalu, saya dengar Pernyataan Buya Syafii Maarif dalam wawancara telepon dengan salah satu radio swasta di Jakarta. Begini pernyataannya:
"Aparat jangan membiarkan kekerasan FPI terus berlabuh. SBY dan JK harus kompak. Kekuatan-kekuatan akal sehat di negeri ini harus berkumpul, untuk meminta pemerintah membubarkan FPI demi martabat bangsa. Demi Pancasila dan UUD. Ini Negara hukum. Di muka bumi ini orang yang tidak beragama pun juga harus di lindungi, karena mereka juga warga Negara.."
Saya setuju banget dengan pernyataan itu.


Tak lama, si endut, partner saya tersayang, menuliskan sekelumit nasib pancasila ke depan nanti, dalam blog kantornya. Ini saya copy pastekan…

29/05/2008 12:46
Religius Demokrat

Adakah tempat bagi Pancasila di tengah-tengah kebangkitan agama?
Beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan kebangkitan kembali agama. Sesuatu yang tak pernah diprediksi sebelumnya. Pada April 1966, majalah TIME menurunkan laporan utama Is God Dead? Pada awal milenium ini, The Economist dengan percaya diri menulis obituari tentang Tuhan. Tapi, peristiwa 11/9 mengubah itu semua!
Kini, kita menyaksikan dunia yang sedang berubah. Inilah masa, ketika agama menjadi semakin penting bagi kehidupan banyak orang. Religion strikes back. Lihatlah Nigeria yang kini terbelah antara utara yang Islam dengan selatan yang Kristen. Pantekosta berkembang pesat di Korea Selatan dan Brazil. Negeri Balkan terpecah antara Bosnia dan Kosovo yang Islam dengan Serbia yang menganut Orthodoks dan Kroasia yang Katolik. Partai berbasis Islam AKP kini berkuasa di negeri sekuler Turki. Pendeta Budha di Burma bangkit melawan rejim militer. Di negeri gajah putih, para Biksu menuntut pemerintah menempatkan Buddhisme sebagai agama resmi negara.

Kebangkitan serupa juga terjadi di Indonesia. Gereja-gereja di mal, kini dipenuhi para jemaat. Mesjid-mesjid makin lantang melantunkan azan dan ceramah. Organisasi massa dan partai berbasis agama tumbuh subur memanfaatkan ruang demokrasi.
Adakah tempat bagi Pancasila di tengah masyarakat yang sedang berubah ini?
Pada 1 Juni kita memperingati hari lahir Pancasila. Dulu, Soekarno menawarkan Pancasila sebagai kontrak sosial, untuk mengikat seluruh kelompok yang mendukung perjuangan. Sila pertama adalah upaya merangkul kelompok agama. Kemanusiaan yang adil dan beradab dipakai untuk mengikat kaum humanis. Persatuan Indonesia ditujukan bagi para nasionalis. Kaum demokrat diakomodasi lewat sila keempat. Sementara kelompok sosialis diberi kompensasi sila kelima.

Setelah 63 tahun kelahirannya, Pancasila menghadapi tantangan baru. Kita melihat kecenderungan menguatnya politik identitas seiring kebangkitan agama. Kini mulai muncul suara yang menginginkan agar negara diatur berdasarkan agama. Di tingkat pusat, sejumlah fraksi di parlemen sempat mengusulkan agar tujuh kata dalam Piagam Jakarta diakomodasi ke dalam konstitusi. Sementara di daerah, bermunculan peraturan bernuansa syariah. Inilah fenomena yang disebut sebagai creeping syariatism, atau syariatisasi yang merayap ke puncak kekuasaan. Pertanyaan berikutnya, seberapa besar dukungan terhadap ide ini?
Riset Lembaga Survei Indonesia menunjukkan, dukungan publik kepada Pancasila sebenarnya masih sangat besar. Sebanyak 83% masyarakat menganggap Pancasila dan Undang-Undang Dasar masih cocok bagi Indonesia. Bandingkan dengan 5,3% suara yang menganggap Pancasila dan Undang-Undang Dasar kurang cocok dan harus diganti. Artinya dari kurang lebih 150 juta populasi masyarakat dewasa, sekitar 124,5 juta mendukung Pancasila. Sebaliknya yang tidak menginginkan hanya sekitar 7,95 juta orang. Secara sederhana, penelitian ini menunjukkan bahwa kesadaran konstitusional masyarakat kita masih sangat tinggi.
Penelitian Saiful Mujani dan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat PPIM (2001), menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memang semakin religius. Tapi di sisi lain, penerimaan terhadap nilai-nilai demokrasi juga besar. Temuan ini, seolah mematahkan klaim Samuel P. Huntington yang menganggap kesalehan berbanding terbalik dengan sikap demokratis.

Semangat keimanan umat Islam di Indonesia diterjemahkan ke dalam kegiatan kolektif, antara lain dengan berpartisipasi dalam organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, atau Majelis Taklim. Tanpa sengaja, aktifitas sosial ini membuat mereka menjadi lebih terbuka dan terbiasa melihat keberagaman. Dalam istilah anak muda, orang yang lebih gaul, akan lebih terbuka melihat perbedaan. Inilah generasi baru yang disebut sebagai kaum religius demokrat. Pada merekalah, masa depan Pancasila dan keberagaman kita akan dipertaruhkan. Selamat Hari Pancasila.

Andy Budiman
Asisten Produser Program "Topik Minggu Ini"

Inilah salah satu hal yang bikin saya makin suwayang sama dia. Klop banget dah dengan pemikiran dia :)


Rabu 11 Juni 2008

Kamis, 24 April 2008

Afternoon Wine

Jelang akhir pekan, di ujung hari kerja, di ujung bulan Februari, entah kenapa hari itu warna pakaian kami senada. Hitam ungu berenda-renda. Elho? Rendanya mana?? Rendanya ada di tempat-tempat tertentu.. hehehe hep mmppff..








Entah kenapa ada teman yang bawa wine. Kebetulan ada yang bawa kamera. Walhasil kita foto foto lah.





Maklum, jeung jeung di kantor ini pada banci foto semua. Setiap ada bunyi 'cekrek' sontak ambil posisi. Gak pernah bisa tahan untuk tidak bergaya. Kadang suara 'cekrek' bunyi pengharum ruangan juga bisa membuat mereka berpose. ( Haha ini becanda dongs).


Kita saling gantian motret. Mas fau (OB kantor) juga di daulat jadi fotografer dadakan. Setelah wine habis, pesta pun bubar. Semua pulang dengan membawa sisa tawa masing-masing. Saya dan Anggie sih masih terus melanjutkan tawa selama perjalanan pulang..




Iih gak penting banget ya tulisan ini. Haha…

Jumat 22 feb 2008

Jumat, 04 April 2008

Kantor baru dan keria-an



Udah lama nih gak ngeblog. Sekarang saya sudah pindah kerja ke The Indonesian Institute. Sebuah lembaga yang memfokuskan diri pada penelitian kebijakan public di Indonesia. Ruang lingkup penelitiannya meliputi bidang ekonomi, sosial, dan politik.
Disini saya menjadi Media Relation. Tugas utama saya mengurus program dialog. Selain itu tentunya saya juga bertugas untuk menyebarluaskan keberadaan TII ke dunia di luar sana, agar lembaga ini dapat menjadi pusat rujukan akan hasil penelitian dan kebijakan public di Indonesia.

Hari-hari di kantor baru memang agak berbeda dengan di kantor lama. Di sini saya dituntut untuk bisa lebih tampil cantik, elegan, dan update dengan issue terkini. Maklum para boss besar saya disini terkenal amat dandy, memperhatikan penampilan, dan mengikuti perkembangan kebijakan public. Jadi sebagai anak buahnya, kami disini, tanpa diminta, merasa harus mampu merefleksikan karakter sang boss. Bekerja di lembaga penelitian , tentunya membuat saya juga harus paham dengan isu terkini terkait hasil penelitian.

Sampai hari ini sih saya menikmati banget kerja disini. Teman-teman disini seru banget. Disini saya punya 4 teman karib. Adinda sang direktur program yang pinter, Anggie si meriah yang suka gituan, Lila si trendsetter mode, dan Yunita yang lagi sakit tipus, (duh kacian).

Beberapa waktu lalu, Boss besar saya mendanai sukuran atas berjalannya program Dialog. Padahal kayaknya baru berjalan 6 episode, perjalanan masih panjang. Masih ada puluhan episode Dialog yang harus dibuat hingga tahun 2009 nanti. Hehe tapi gak ada salah nya dong untuk mensukuri apa yang sudah dilalui.





Bersama 4 rekan dan seorang board (mestinya ada 2 board yg ikut, tapi salah satu dari mereka membatalkan diri) kami merayakan sukuran di Nu China kemang. Dari semua minuman yang ada, saya paling suka minuman yang warna nya biru, kata Lila namanya hypnotic. Salah satu teman sempat mabora dan nembak. Siapa dia? eits rahasia dongs.. 
Seru. Tapi ada satu kekurangannnya. Gak ada bangku (gak dapat table). Walhasil saya dan jeng din sering ilang-ilangan, berdua pergi ke rest room untuk numpang duduk. Cuwape banget bo semalaman berdiri hehe..



Jelang dini hari, kami pulang. Bukan pulang ke rumah masing-masing, tapi ke hotel Niko. Kami cewe-cewe buka kamar disana. Ini masih atas biaya sang boss. Kala mentari mulai menyengat, barulah kami pulang ke rumah dan alamnya masing-masing.

Ah.. cuwape tenan, tapi seru bow.

JKT 6 Maret 2008

Rabu, 16 Januari 2008

New year eve’ with bias gender (Uugh..)

Kemana malam tahun baru? Demikian banyak teman bertanya. Malam tahun baru kami tetap ada di Jakarta, karena si om gak mau ambil cuti. Si om masih terhitung anak baru di kantornya. Meski sebenernya sudah setahun lebih dia kerja di sana, tapi teteup doski gak enak untuk ngajuin cuti.

Malam jelang tahun baru, di tengah hujan gerimis kami memenuhi undangan seorang kawan di bilangan Simprug Golf Jakarta Selatan. Kami datang agak awal. Rumahnya besar sekali dengan gaya eklektik di setiap ruangnya. Perpaduan antara modern dan klasik. Semua serba wall treatments dengan wall paper cantik hingga di daerah basah. Complete with huge piano and pure real flowers Accessories. So comfortable zone.

Ketika datang kami langsung disambut beberapa orang berambut cepak. Mereka berseragam safari, memegang hp dan payung.Tentunya mereka bukan ojek payung  mungkin semacam satpam gitu (Tapi dari cara bersikap, kayaknya mereka lebih dari sekadar satpam).
Kami masuk melewati beberapa ruangan hingga akhirnya sampai ke sebuah ruang kerja dengan satu set sofa. Beberapa tamu telah hadir disana.

Ketika kami datang, salah seorang tamu (dari Metro TV) langsung berkata, “Perempuan di sebelah sana..disini khusus cowok-cowok”.
Elho?? Kok dipisah-pisah gitu sih? Bias gender banget sih! Kayak Muhammadiyah aja. Sumpah dalam hati saya misuh-misuh. Lagi pula ini malam tahun baru, cuma sekali dalam setahun. Tentunya saya ingin melepas tahun baru ini dengan laki saya dong, kekasih dan orang terdekat saya. Tapi karena gak enak sama yg lain, dan tidak ada penolakan dari andy, terpaksa saya menurut saja.

Saya pergi meninggalkan ruangan, menuju area buffet dekat kolam renang. Demi melepaskan kekesalan, saya menyibukan diri mencicipi semua makanan. Saya berbasa basi dengan beberapa perempuan yang baru saya kenal disana. Sumpah garing banget dan mati angin. Saya sempat sms andy menanyakan beberapa teman yang kabarnya juga diundang ke acara tsb. Namun andy tidak bisa menjawab apakah para temans itu akan datang.



Setelah beberapa jam berlalu akhirnya datang juga teman-teman kami itu. Walhasil saya bisa berhaha-hihi dan menikmati tutup tahun dengan hangat. Mendekati tengah malam, tuan rumah menggelar kembang api yang mestinya bagus. Namun kami cuma bisa dengar suaranya yang meledak ledak. Indahnya percikan kembang api tidak terlihat karena void kolam renang yang kurang lebar sehingga menutup pandangan. Thanks to mas jeffry dan mba ina, atas undangannya. Atas Wine yang melimpah dan enak banget, atas keik lezat yang entah apa namanya (saya habis 3 loh hehe), atas buah tangan satu botol wine dan keik coklat lucu untuk di bawa pulang. Thanks to andy who still by my side, to share laugh, live, and much love. This is ours 7th years dear… I have one big new year resolution, would you support that ?

Selasa, 18 Desember 2007

Pengajian with wine at Bacchus

Beberapa hari yang lalu, 
saya dan Andy kembali memenuhi undangan rendezvous seorang teman.  Pengajian, demikian kami menyebut rendezvous ini. Karena awalnya acara ini seringkali di gelar pada Jumat malam, seperti layaknya pengajian. 

Kali ini sang teman memilih 'Bacchus'  di  Intercontinental hotel MidPlaza sebagai tempat pengajiannya.


Sebuah tempat yang cozy, elegan dan akrab.

Biasanya kami tidak duduk di bar, seperti dalam gambar. Kami biasanya menempati sebuah area layaknya living room, dengan beberapa sofa empuk mengelilingi meja rendah. I wonder that table is inspire by Bitter Myers.


Sungguh ini bukan sebuah pengajian biasa. Ini sebuah pengajian yang lain dari biasa. Pengajian membahas segala hal, dari yg seriues sampai yg enteng-entengan karet. Dari masalah politik terkini, sastra, sampai cinta. Obrolan biasanya berlangsung hingga mendekati tengah malam, dengan makanan dan wine yang mengalir tanpa henti.


Peserta pengajian hanya orang-orang terundang. Karena sepertinya sang teman kami itu, memilih betul siapa-siapa yang dia inginkan untuk hadir di forum kecil tersebut. Yah bagi kami ini sah saja. Sebagai tuan rumah, dia berhak utk menentukan siapa tamu nya.

Malam itu pengajian di hadiri sekitar 11 orang. Sebagian besar datang dari kalangan media. Beberapa bergiat di perusahaan multinasional, politik, dan NGO.


Pengajian dipimpin oleh seseorang yang sebenarnya punya kelayakan menjadi kyai. Pak "kyai" memiliki referensi hampir sedahsyat perpustakaan Brewster Kahle, lengkap dengan anekdot satir, segar dan lucu.

Ketika menikah dulu, Pak kyai pernah mengutip sebuah perkataan Socrates, "Menikahlah. Bila kau mendapatkan istri yg baik, maka kau akan bahagia. Tapi bila tidak maka kau akan menjadi filosof".

Sejak itu Kami sering berkelakar padanya, "Sudah menjadi filsuf belum mas..?" :)



Menurut rencana awal, pengajian malam itu akan mengusung tema "God is not Great". Namun apa daya pak kyai belum membaca maktuban tersebut. Sehingga topik obrolan mengalir saja, dari soal perkembangan media di negeri ini, panasonic award, sampai soal tantangan dan si ucok.



Ada satu obrolan yang ingin saya bahas di sini. Salah seorang teman melempar topik soal hasil survey LSI dalam Pilkada di Bojonegoro 10 Desember ’07 yang lalu. Quick count LSI menyuguhkan bahwa pasangan Suyoto dan Setyo lah yang bakal menang. Ternyata memang benar, sepekan kemudian KPUD Bojonegoro mengumumkan secara resmi kemenangan pasangan tersebut


Menarik untuk mencermati, bagaimana dengan dana yang minim, pasangan Suyoto dari kubu Muhamadiyah itu berhasil menang di daerah 'kantong' NU. (saya lupa berapa teman saya itu menyebut kisaran dana kampanye yang di miliki Suyoto).
Awalnya mereka tidak dijagokan bisa menang, mengingat 2 pasangan kandidat lainnya sepertinya lebih punya banyak massa di Bojonegoro. Uraian soal ini bisa di klik disini


Menurut info teman kami, Suyoto ini punya cara yang unik dan murah dalam mendekati warga Bojonegoro. Selama 9 bulan dia pergi meninggalkan rumah, njagong berkeliling di setiap perhelatan di pelosok Bojonegoro. (Njagong itu bahasa jawa, artinya = meriung, ngobrol, dan begadang dalam sebuah berhelatan). Suyoto nonstop 9 bulan njagong di semua perhelatan pernikahan, sunatan, kelahiran sampai kematian. Kalo perlu menginap di rumah penduduk. Sebuah cara yg murah dan mengena di hati warga Bojonegoro. Masyarakat jawa terkenal akan keguyubannya. Bila ada tamu yg datang ke sebuah rumah, tentunya para tetangga sekitar akan ikut among tamu. Begitulah, Suyoto tidak perlu mendatangi rumah satu persatu. Cukup njagong di satu rumah, maka warga satu dusun akan turut berdatangan menemuinya. Ini sebuah cara yang unik dan murah. Patut di tiru oleh para kandidat di setiap Pilkada.

Suyoto merupakan salah satu Rektor sebuah universitas di Jatim. Dia cukup populer di kampus, dia lebih memilih naik motor ketimbang mobil pribadi untuk pulang pergi kampus. Hal ini tentu membuat dosen lainnya jadi sungkan untuk bermobil.
Dengan umur sekitar 35-40 tahun, Suyoto terhitung masih muda untuk ukuran seorang Kepala daerah. Dia begitu open mind dan ingin belajar dari siapapun demi memajukan Bojonegoro. Kalo perlu belajar dari pengusaha gelap sekalipun tidak masalah, asal bisa mengambil sari ilmu yang baik demi memajukan warganya. Itu menurut info teman saya. Saya sih tiada bisa menjamin soal ini. Wong belum pernah ketemu .


Saya jadi penasaran seperti apa Bojonegoro ini?
Ternyata daerah ini kaya akan sumber bumi dan sarat sejarah budaya. Bagian barat Bojonegoro (perbatasan dengan Jawa Tengah) merupakan bagian dari Blok Cepu, salah satu sumber deposit minyak bumi terbesar di Indonesia.
Luas wilayah Bojonegoro sekitar 3 kali lipat dari luas DKI Jakarta, dengan penduduk yang hanya sekitar 1 juta jiwa. Bandingkan dengan penduduk Jakarta yang sekitar 9 juta jiwa. Bayangkan berapa banyak pendapatan berkapita dari masing-masing warganya bila dilihat dari hasil minyak cepu saja.


Bagian utara merupakan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo yang cukup subur dengan pertanian dan tembakau virgina terbaik di dunia. Bojonegoro juga memiliki tambang batu onix di kecamatan Bubulan dan pegunungan kapur yg membentang di sepanjang barat laut.

Bojonegoro sarat akan sejarah budaya. Pada abad ke 16, wilayah ini masuk dalam kekuasaan Majapahit. Pernah baca buku Tetralogi ‘Gajah Mada’ oleh Langit kresna hariadi ? [Ini sedikit buku hasil karya anak negeri yg menjadi best seller di negeri sendiri. buku Tetralogi ‘Gajah Mada’ ini menarik. Cara baru belajar sejarah. Saya jadi tau, siapa Ibunda Hayam wuruk, saya jadi tau Hayam wuruk punya 1 adik perempuan dan 2 sepupu perempuan. Tapi kecantikan para sekar kedaton Majapahit itu masih kalah dibandingkan kecantikan Dyah pittaloka putri kerajaan Pasundan, yang memicu perang bubat. Perang yg meninggalkan luka tak tepermanai meski 5 abad telah berlalu. Hingga kini di daerah Jawa Barat tidak pernah ada jalan atau apapun bernamakan “Hayam wuruk’ dan ‘Gajah mada’. Luka perang itu masih tetap belum sembuh benar ]

Kembali ke Bojonegoro. Beberapa wilayah Bojonegoro sering disebut-sebut dalam buku tersebut. Misalnya kecamatan Dander, dalam buku ‘Gajah Mada’ wilayah itu disebut Bedander. Ada sumber air yang jernih disana. Kini dander menjadi salah satu tujuan wisata alam dan sejarah. Terdapat banyak objek wisata peninggalan Belanda di kecamatan ini.


Kecamatan Ngasem di Bojonegoro juga sering di sebut-sebut dalam buku ‘Gajah Mada’. Di Ngasem ini terdapat objek wisata kayangan api, apinya menyala sepanjang masa. Kayangan api ini ada sejak jaman kerajaan Majapahit. Menurut cerita rakyat, para empu menggunakan api ini untuk membakar besi menjadi keris. Menurut kepercayaan rakyat, hingga saat ini empu tersebut masih ada, dan tak jarang sering menampakan diri ke pengunjung. Wah kalo ini agak klenik yah. Maklum jawa, budayanya memang sarat perklenikan heheh .


Fenomena di dusun Jepang Bojonegoro lain lagi. Ada kelompok budaya masyarakat Samin yang menerapkan paham Saminisme dalam kehidupannya. Gerakan Saminisme terbentuk sejak jaman pendudukan belanda, dipimpin oleh Ki Samin Surosentiko. Dalam Komunitas Samin tidak ada istilah untuk membantu Pemerintah Belanda. Kini Lokasi ini berprospek menjadi tujuan wisata Homestay.


Pernah dengar ronggeng? Di Kecamatan Temayang dan Bubulan Bojonegoro hingga kini banyak terdapat kelompok-kelompok tari tayub. Dalam Sejarah Jawa yang terkenal, Stamford Raffles (berkuasa antara tahun 1811-1816), sudah menulis bahwa ronggeng merupakan kesenian yang sudah tumbuh berabad-abad di Jawa dan sangat populer di kalangan petani.




Kesenian ini digelar untuk mensyukuri panen yang melimpah. Entah, apakah tayub di Bojonegoro ini memiliki srintil-srintil yang mirip dengan gambaran buku ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ karya Ahmad Tohari?



Dimana sang ronggeng mampu menggairahkan pedukuhan yang sepi. Menjadi Primadona yang menyelamatkan Tradisi. Adakah romantika gelap yang membayangi sang ronggeng? Apakah sang calon Ronggeng harus melewati upacara keperawanan, dan menyerahkan liang daranya bagi seseorang yg memberi harga paling tinggi ? entahlah…


Bojonegoro memang kaya. Semoga sekaya itu pula para warganya. Mudah-mudahan…

Rabu, 05 Desember 2007

Poligami ?

Ada perdebatan panjang soal Poligami di milist JIL.
Adalah seorang anggota milist, sebut saja Ade armando  :)  belum lama ini melakukan poligami. 
Perbuatannya ini mengagetkan khalayak ramai.
Selama ini Ade Armando termasuk sosok yg amat menjunjung tinggi persamaan gender, yg umumnya tidak suka poligami.

Perdebatan berlangsung panjang. kubu pro dan kontra poligami saling mengemukakan dalil-dalil nya. Kubu pro menolak kalo poligami itu merupakan bentuk kekerasan kepada perempuan. 
Agama pun (Islam tentunya) tidak melarang poligami. 
Cuma kristen yg melarang poligami. Itupun kristen modern dari barat.

Dari perdebatan itu, tersirat mereka yg pro poligami merasa ini merupakan penghakiman dari kaum modern barat. Wah disini saya sempat godek. Wah kok bawa-bawa anti modern barat dalam kasus yg jelas-jelas merendahkan perempuan ini.

Awalnya saya hanya misuh-misuh dari belakang. Saya sudah tulis balasan email tapi tidak punya keberanian utk men-sending nya.
Maklum di milist ini isinya "dewa-dewa" teologi semua.
Apalah saya yg awam ini di banding mereka.

Namun dengan nekad akhirnya saya send saja. Yang terjadi biarlah terjadi. setidaknya saya sudah sedikit mencurahkan pendapat saya yg berbeda itu.

Ini saya copypaste komentar saya di milist tersebut...
suci mayang sari to islamliberal
show details Dec 4 (1 day ago)

Permisi,
Saya agak 'tergerak" dengan pernyataan Bung Ade, yg ini

"..Pertanyaan saya adalah, dari mana datangnya penolakan yang total terhadap poligami sebagaimana ditunjukkan mereka yang mengkritik poligami? Saya duga, salah satu jawaban utamanya adalah wacana Kristen. Itupun saya duga Kristen modern, karena buktinya masyarakat Mormon tetap mempraktekkan poligami. Doktrin Kristen itu sampai ke kita melalui modernisasi. Kita menafsirkan apa yang disebut modern dengan merujuk, antara lain, nilai-nilai barat yang tentu sangat dipengaruhi Kristen..."

Saya kurang setuju dng pernyataan bung Ade ini, Saya cuma ingin membagi yg pernah saya dapat di sekolah dulu. Kristen Mormon itu mrk sempalan aliran yg datang belakangan. sama seperti kristen Anglikan, kristen protestan, baptis, dll.

Di antara sempalan-sempalan aliran kristen tsb, masih ada yg jauh lebih tua. yaitu Ortodoks di Timur dan Khatolik Roma di Barat - yg terpecah dua karena faktor jarak. Sebelum terpecah dua, mereka satu di bawah Santo Petrus, di Timur tengah.

Perlu di ketahui, Kristen Ortodoks di Timur cenderung tetap solid sampai sekarang. Sementara Katholik Roma di Barat malah yg banyak friksi, yg akhirnya memunculkan banyak aliran baru, seperti Anglikan -muncul akibat raja inggris yg ingin kawin lagi-, kristen Mormone, Protestan, Baptis , dll.

Jadi jelas terlihat, anti poligami di Kristen bukan mutlak berdasar tempat (Barat atau TImur), atau pun waktu (dulu atau modern). Tapi memang sejak dari "sana" nya Kristen itu anti poligami.
Terbukti, dua sempalan aliran baru dari katholik Roma (yg jelas2 ada di Barat) -yaitu anglikan dan Mormon, memisahkan diri akibat urusan poligami.

Demikian sekadar berbagi.
Matur tengkyu
~ m


Begitu isi balasan email saya. 
Saya tidak ingin para pro poligami menggeneralisir bahwa 
mereka yg tidak sependapat dng poligami adalah antek modern barat.